Banjir dan Longsor Melanda Sibolga: 59 Titik Rusak, 8 Warga Meninggal, dan Puluhan Hilang



Kota Sibolga, Sumatera Utara, kembali diguncang bencana besar setelah hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama berhari-hari memicu banjir dan longsor di puluhan titik. Berdasarkan data terbaru, bencana ini mencatat 59 titik kejadian banjir dan longsor, menjadikannya salah satu wilayah dengan dampak terluas di pantai barat Sumatera.

Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), peristiwa ini menelan 8 korban jiwa, sementara 48 orang lainnya dinyatakan hilang dan masih dalam proses pencarian. Sebagian besar korban hilang diduga terseret arus banjir bandang maupun tertimbun longsor yang terjadi secara tiba-tiba di wilayah perbukitan.

Selain korban jiwa, ratusan rumah warga terendam lumpur dan air setinggi pinggang hingga dada orang dewasa. Beberapa kawasan pemukiman bahkan tidak bisa diakses karena tertutup material tanah, batu besar, pohon tumbang, serta runtuhan bangunan. Jalan utama yang menghubungkan pusat kota dengan kecamatan sekitar mengalami kerusakan berat sehingga menghambat proses evakuasi dan penyaluran bantuan.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, serta relawan komunitas terus melakukan pencarian tanpa henti. Kondisi cuaca yang masih tidak stabil membuat proses pencarian di daerah rawan longsor menjadi sangat berbahaya. Sejumlah alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan dan membersihkan timbunan tanah yang mengisolasi beberapa permukiman.

Selain kerusakan fisik, ribuan warga mengalami dampak sosial berupa kehilangan tempat tinggal, kesulitan mendapatkan air bersih, serta minimnya persediaan makanan. Posko pengungsian didirikan di sekolah, masjid, dan balai warga untuk menampung korban terdampak. Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat proses pemulihan.

Para ahli geologi mencatat bahwa kondisi geografis Sibolga yang berada di antara perbukitan curam dan garis pantai membuat kota ini rawan terhadap banjir bandang dan longsor. Intensitas hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat mempercepat pergerakan tanah dan membuat sungai-sungai kecil meluap hingga membawa material lumpur ke permukiman.

Pemerintah mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di lereng bukit atau dekat aliran sungai. Langkah-langkah mitigasi seperti patroli lereng, pembersihan drainase, dan relokasi mandiri sementara terus disosialisasikan agar bencana serupa tidak menimbulkan korban jiwa yang lebih besar.

Bencana di Sibolga menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah harus ditingkatkan, apalagi di tengah perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Harapan besar kini tertuju pada percepatan pemulihan, pencarian korban hilang, serta pemulihan infrastruktur agar kota Sibolga dapat bangkit kembali.

3 Komentar

Lebih baru Lebih lama