Banjir Besar Melanda Kota Medan 2025: Kronologi, Dampak, dan Situasi Terkini



Bencana banjir besar melanda Kota Medan pada akhir November hingga awal Desember 2025. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama beberapa hari menyebabkan sejumlah sungai di Medan meluap, termasuk Sungai Deli, Sungai Babura, dan beberapa aliran sungai kecil yang bermuara ke kawasan padat penduduk. Akibat curah hujan ekstrem tersebut, air naik cepat dan menggenangi permukiman hanya dalam hitungan jam, membuat banyak warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.

Pemerintah Kota Medan menetapkan status Tanggap Darurat Bencana pada 27 November 2025 dan memperpanjangnya hingga 11 Desember 2025 karena dampak banjir yang sangat luas dan korban yang terus bertambah. Bencana ini menjadi salah satu banjir terbesar yang pernah terjadi di Medan dalam beberapa tahun terakhir.

Dari data resmi yang dihimpun oleh Pusdalops PB Sumatera Utara, tercatat bahwa 19 dari 21 kecamatan di Kota Medan terdampak banjir. Kawasan yang paling parah mengalami genangan meliputi Medan Johor, Medan Maimun, Medan Sunggal, Medan Tuntungan, Medan Amplas, dan Medan Marelan. Banyak rumah warga tergenang hingga setinggi dada orang dewasa, bahkan beberapa lokasi mencapai ketinggian setara atap rumah. Secara keseluruhan, sekitar 7.402 rumah warga dilaporkan rusak dan terendam air.

Dampak sosial dari bencana ini sangat besar. Lebih dari 46.587 jiwa atau 15.753 kepala keluarga (KK) dinyatakan terdampak secara langsung. Banyak warga harus meninggalkan rumah mereka karena rumah tidak memungkinkan untuk dihuni sementara waktu. Tercatat 901 jiwa dari 225 KK mengungsi di 16 titik pengungsian yang dibuka pemerintah serta bantuan dari masyarakat. Di lokasi-lokasi ini, para pengungsi mendapatkan kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, pakaian, selimut, dan layanan kesehatan.

Tragisnya, banjir ini juga menimbulkan korban jiwa. Laporan resmi menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal dunia mencapai 12 orang hingga awal Desember 2025. Korban terdiri dari warga yang terseret arus, terjebak dalam rumah saat banjir datang tiba-tiba, serta beberapa lansia dan anak-anak yang tidak sempat dievakuasi. Angka ini meningkat dari laporan sebelumnya yang mencatat 7 korban jiwa pada tanggal 2 Desember 2025.

Selain merusak rumah warga, banjir juga mengganggu aktivitas ekonomi. Banyak warung, toko, dan fasilitas usaha terendam. Akses transportasi di beberapa ruas jalan besar lumpuh total sehingga menghambat proses distribusi logistik, termasuk bahan bakar minyak (BBM). Bahkan sempat muncul kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan BBM di beberapa SPBU karena jalur distribusi terhalang banjir.

Banjir besar ini memperlihatkan betapa rentannya Kota Medan terhadap bencana hidrometeorologi. Pertumbuhan kota yang pesat, perubahan tata guna lahan, dan kurangnya ruang resapan air membuat curah hujan tinggi mudah menimbulkan banjir. Meski hujan deras merupakan faktor utama, kondisi drainase yang tidak optimal serta penyempitan sungai karena bangunan di daerah aliran sungai turut memperparah situasi. Dalam banyak kasus, permukiman di bantaran sungai menjadi lokasi paling terdampak.

Upaya penanganan masih terus berlangsung. Pemerintah bersama TNI, Polri, BPBD, serta relawan turun langsung melakukan evakuasi, pendataan, pemberian bantuan, dan pemulihan kondisi lingkungan. Bantuan logistik dan obat-obatan terus disalurkan, sementara tim medis disiagakan di titik pengungsian untuk mencegah penyakit pasca banjir seperti diare, infeksi kulit, dan demam berdarah.

Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, bencana ini menjadi peringatan penting bagi Pemerintah Kota Medan untuk memperkuat sistem mitigasi bencana. Evaluasi besar-besaran terhadap sistem drainase, normalisasi sungai, peningkatan kapasitas kolam retensi, serta edukasi kesiapsiagaan masyarakat menjadi kebutuhan mendesak agar kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.

Banjir Medan 2025 bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga cerminan tantangan lingkungan dan tata kota masa kini. Dengan penanganan yang tepat dan perencanaan yang matang, diharapkan Medan mampu bangkit dan membangun sistem perlindungan yang lebih kuat bagi warganya.


3 Komentar

Lebih baru Lebih lama